Little Prince

Dari hari ke hari, aku semakin menyukai cerita anak, dan membanting setir cita-cita menjadi penulis cerita anak. Terlebih lagi setelah baru saja menbaca The Little Prince by Antoine de Saint-Exupery.

Novel ini mengisahkan tentang seseorang yang harus membunuh impian masa kecilnya menjadi pelukis, karena orang-orang salah kaprah tentang gambar pertama yang dibuatnya, yaitu Boa melilit mangsa yang disangka orang-orang adalah gambar topi *aku pun awalnya mengira itu topi. Sampai di masa dewasanya, ia menjadi penerbang, dan suatu hari pesawatnya yang karam di gurun sahara menjadi pemicu awal perjumpaanya dengan seorang Pangeran kecil dari negeri antah berantah, yang menjadi orang yang pertama kali tahu gambarnya adalah Boa melilit mangsa, yang menjadi sahabatnya, dan yang mengisahkan berbagai kisah unik yang belum pernah ia dengar sebelumnya.

Aku terpesona dengan berbagai kisah yang diceritakan Pangeran kecil. Ia menceritakan tentang sahabatnya, si Bunga, yang aku rasa adalah perumpaman wanita. Makhluk yang paling cantik tapi sekaligus paling menjengkelkan. Makhluk yang paling rapuh tapi sekaligus paling dicintai. Aku pun diingatkan kembali tentang sifat jelek manusia dewasa, yang diperlihatkan oleh raja-raja yang ditemui Pangeran kecil, tentang kebiasaan menunda pekerjaan, meremehkan hal kecil, mengagung-agungkan kekuasaan (bahkan dengan penuh ironi Raja disini digambarkan sebagai orang yang tidak punya kuasa tetapi tetap memberikan perintah dan larangan karena ia seorang RAJA), orang yang haus akan pujian dan rasa kagum, orang-orang yang menghabiskan waktu untuk hal yang tidak berguna, orang-orang gila harta yang tenggelam dengan hartanya dan..tidak memikirkan dunia lain tanpa ia sadari bahwa harta tidak dibawa mati. Aku belajar tentang kematian dan perpisahan, tetapi tidak dalam nuansa penuh kesedihan, melainkan perpisahan yang dimaknai dalam sebuah keindahan, dan perasaan saling mengerti, bahwa kita memang harus berpisah. Aku pun belajar kembali tentang makna persahabatan, bahwa mungkin sahabatmu sama dengan orang lain, ia sama-sama manusia, tapi yang membedakan ia dengan yang lain adalah makna, sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata, tetapi oleh hati

Waktu yang kauhabiskan untuk mawarmulah yang membuat mawarmu begitu penting (Little Prince, pg.85)

Kau harus bertanggungjawab selamanya, atas apa yang kaujinakkan (Little Prince,pg.85)  

Aah..aku sangat senang dapat membaca buku ini. Buku yang aku baca ini telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, tetapi ia bahkan tidak kehilangan segala makna dan unsur puitis edukatif  walaupun tidak dibaca dalam bahasa aslinya. Aku rasa ini adalah buku filosofis yang dibungkus dalam dunia anak, seperti membaca Dunia Sophie versi cerita anak. Aku rasa kamu pun akan menyukai buku ini, resapi dalam-dalam agar kamu memahami apa yang ada dibalik segala simbol yang ada dalam cerita ini. Selamat membaca  :)

 

Komentar bertahan »

Dia..

aku tidak tahu sejak kapan, tapi..

tiba2 dia menjadi bagian terpenting dalam hidupku

rr..tidak selalu menjadi ‘top of my list’.

kadang ia menjadi yang teratas, terbawah, atau hanya menjadi bagian netral dalam hidupku saja.

dia adalah orang tercuek yang aku kenal

tapi ia mengubah pandangku

setidaknya, di detik-detik aku merasa kesulitan dan tidak berdaya, ia bak super hero, yang selalu siap mengulurkan tangannya untukku

ia rela berhujan-hujan demiku, rela menunggu berjam-jam bersamaku demi kepentinganku, dan..ia rela melakukan banya hal yang aku kira tidak mungkin dilakukan seorang  ‘IA’ bagiku

ada hari-hari dimana ia begitu menyebalkan bagiku

ia menjadi orang yang tidak punya empati, bahkan nyaris membuatku menangis

aku tidak tahu kenapa, bahkan sampai sekarang, aku tidak tahu jawabannya mengapa?

aku tahu saat ia menganggap akulah dunianya

ia melirik dan mengamati setiap gerak-gerikku

dan tersenyum kecil saat aku melakukan berbagai kekonyolan

tapi..ada saatnya pula mata itu beralih untuk wanita lain

dan aku pun hanya mengelus dada dan berujar dalam hati ‘tak apa’

aku..sampai sekarang tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan pada diriku

aku masih mencari, dan terus mencari

begitupun hatiku, aku pun terus bertanya dan mempertanyakan

apakah ialah orangnya atau..adakah orang lain?

aku rasa..pertanyaan ini akan aku genapi pada akhir tahun ini

terjawab atau tidak

terkuat atau hanya menjadi misteri

setidaknya.. aku merasa beruntung. rasa itu pernah ada

walau..aku sendiri pun tidak tahu apa itu..

Komentar bertahan »

Proud to be Myself :)

I really need energizer. I think everything that I’m done in last day going to be s***. I’m failed in this thing, and then failed again in that thing, again, and again. I think I’m not share enough to other people and I’m feel really guilty. And.. I think so many application said that I’m not qualified to enterance to their company. And I terrible feel sad. I’m failed again and again. I really shame and I don’t have passion again in my life ;(. But, after a couple of week with sadness and hopeless, I decided not being shame act like that again! I know I’m very wonderful and talented people. Maybe I don’t have any change in this year because God don’t want I do that thing now. Maybe I’m not good when I got my master know, maybe I’m not good worked on the office, and maybe I’m not ready going abroad now. But I do believe that someday, there is time for me to prove to myself that I CAN. Amin. So, I open my old file and I found good think, let say personality test, but maybe like fortune teller, because I just filled my name and date, month, and year that I born, and voilaa..come the result. But, actually, 90% true and can booster me. Haha.. let see..

devi 02/12/1987

You are Green Pegasus, who tends to give an impression of being proud and difficult person to get to know.

But you can be really friendly and affectionate to those people you trust.

You are quick minded and can act audaciously.

You are a person who would follow ideals with passion.

You possess sensitivity and flashes.

You can make calm calculation and come up with objective theory.

You are also tactful negotiator.

You can be rather strong headed, but really, you are naturally a good person and natured.

You can flirt to attract men to you.

You are woman of both brains and beauty.

You enjoy the process of creating things.

You will concentrate hard and will put great effort while tackling it, but once finished you can easily lose interest.

You hand over your accomplishments to others, and then start creating new one again.

Although you can be argumentative, you dislike complicated matters.

Therefore you tend to dispose a matter easily.

You dislike ordinary things, and will end up doing things that surprise people.

You will not turn out an ordinary housewife.

You should stay working in an environment where you can enjoy your freedom.

Your down-to-earth type of character attracts lots of men.

But because you have high ideals, you tend to lose the opportunity, and get passed the marriage age.

Komentar bertahan »

Dan saya bernostalgia sejenak dengan Malory Towers

Siapa yang tidak kenal Enid Blyton? Wanita dengan segudang ide kreatif ini merupakan salah satu penulis cerita anak yang dikenal di penjuru dunia. Entah sudah berapa buku yang dihasilkannya dan dilahap oleh anak-anak di seluruh penjuru dunia, termasuk..saya. Ya, saya sangat suka cerita karangan Enid Blyton, terutama serial Malory Towers. Keenam seri bukunya membuat saya ingin sekali sekolah di asrama *jauh sebelum saya mengenal Hary Potter*. Darren (tokoh utama dalam serial ini) dan genk-nya, untuk pertama kalinya, membuat saya jatuh cinta dengan sekolah.

Letak sekolah, pemandangan, dan segala hal yang diajarkan oleh Malory Towers langsung membuat saya terpikat dan berandai-andai kalau saya dapat memiliki kesempatan untuk bersekolah di tempat seperti itu. Hal terpenting yang diajarkan oleh Malory Towers dan selalu terngiang oleh saja adalah tentang ajaran seseorang untuk memiliki kepribadian yang baik. Nona Grayling, sang kepala sekolah, selalu memberikan wejangan pada murid baru, yang isinya:

“Bagiku, bukan mereka yang lulus ujian serta menerima penghargaan yang kuanggap sebagai keberhasilan sekolah ini. Memang itu semua baik. Tetapi yang lebih kuutamakan adalah mereka yang bisa belajar untuk memiliki hati yang besar dan baik, cerdas serta terpercaya; wanita-wanita yang bisa diandalkan oleh sekelilingnya. Dan yang kuangap gagal adalah mereka yang tak mampu mempelajari itu semua disini.”

Singkatnya saya menjuluki itu ‘mental juara’. Sering kali kita memacu anak menjadi juara di berbagai bidang, dan terlupa untuk mendidik anak memiliki ‘mental juara’ itu sendiri. Sebenarnya ‘mental juara’lah yang menjadikan kita ‘sang juara sejati’. Tanpa perlu embel-embel pemenang penghargaan atau juara nasional, seseorang yang memiliki ‘mental juara’ akan memiliki kharisma yang menjadikannya pemimpin dan dihargai dimanapun ia berada. Itulah yang saya lihat pada Darrel, tokoh utama dalam serial ini, ia bukanlah juara pertama disekolahnya, bukan pula gadis yang menyabet berbagai penghargaan, tetapi ia akhirnya menyandang jabatan sebagai Ketua Murid, karena ‘mental juara’nya tersebut.

Sekarang, saya bekerja di sebuah sekolah. Saat pertama kali saya mengijakkan kaki disana, yang pertama kali saya lihat adalah kolam renang, dan saya pun langsung teringat Malory Towers yang juga memiliki kolam renang yang indah. Beberapa bulan di sekolah ini pun juga banyak membuat saya teringat pada Malory Towers. Sejak kecil anak diajarkan untuk mandiri, untuk memikirkan konsekuensi atas segala hal yang dilakukan (dan bukan mengerjakan sesuatu karena terpaksa untuk menghindari hukuman). Sekolah ini pun mengerti bahwa setiap anak memiliki kepribadiannya yang unik dan memfasilitasi keunikan dan perbedaan tersebut.

Saya bersyukur Indonesia memiliki sekolah seperti ini, dan saya pun sangat berharap makin banyak sekolah-sekolah di Indonesia seperti Malory Towers, agar anak-anak Indonesia menjadi anak-anak yang bermental juara. Agar Indonesia menjadi negara yang lebih baik lagi. Agar Indonesia memiliki bibit-bibit unggul yang bertekad membangun negara, bukan membangun diri dengan menghancurkan negara.

Ya..dan impian masa kecil saya pun masih melekat jelas, saya ingin sekali ke Inggirs, tempat dimana Malory Towers berada dan tempat dimana seseorang sehebat Enid Blyton dilahirkan sehingga dapat membuat buku seindah Malory Towers. Saya ingin sekali ‘mencuri’ ilmu dari Inggris dan terbang kembali ke Indonesia untuk membangun sekolah-sekolah yang membangun muridnya ‘bermental juara’. Sambil berandai-andai, untuk sekarang saya cukup puas dengan membaca kembali Malory Towers deh. Tapi cita-cita itu masih ada, dan semoga segera terwujud. Inggris..wait for me ^^

Komentar (2) »

Meminta yang terbaik

Aku tidak tahu bagaimana mulanya, tapi tiba-tiba berdoa menjadi hal yang rutin aku kerjakan.

Makan, tidur, belajar, pergi, pasti ada saja hal yang membuat aku berdoa, setiap hari, setiap waktu

Dan aku sadar..aku tidak mengerti dan tidak memahami apa sebenarnya esensi dari berdoa itu

Apalagi ketika aku SMP dan SMA di Al-Azhar, berdoa menjadi sebuah hal yang panjang. Wajib karena dihafalkan, bahkan masuk dalam ujian. Tapi..lagi-lagi aku tidak melihat esensinya.

Sampai aku menjadi remaja, dan emosilah yang melingkupi segala doaku. Kekesalan dan kemarahanku dilampiskan dengan kata KENAPA pada Allah. Keinginanku diwujudkan dengan kata HARUS dikabulkan

Sampai akhirnya aku lelah..

Dan merenung kembali. Apa tujuan dari doaku? Apa yang aku mau?

Dan aku sadar..

‘Meminta yang terbaik’ adalah sudah lebih dari cukup.

Saat ini..dan nanti..

Karena Allah yang Maha Tahu, apa yang harus dan akan terjadi pada makhluknya..

Jadi aku memulai, dengan berdoa, untuk meminta apapun yang terbaik pada Allah

Awalnya susah, karena keegoisan yang menyelimutiku masih saja berkata untuk berkata HARUS..HARUS..HARUS..apapun yang aku mau..

Sampai aku kembali tersadar, dan teringat, bahwa :

‘Meminta yang terbaik’ adalah sudah lebih dari cukup.

 

Beberapa bulan yang lalu, aku ikut tes untuk masuk menjadi mahasiswa S2

Aku terus berdoa agar aku dapat diterima, karena aku sangat tidak suka gagal, dan aku tahu aku mampu

Sampai tibalah saat wawancara, dan ada satu pertanyaan yang membuat aku mengeluarkan air mata.

Ya..detik itu juga, aku tahu aku belum siap untuk ini, tapi sifat perfeksionis dan denial yang menonjol saat itu membuat aku berdoa habis-habisan agar aku dapat diterima, apapun konsekuensinya

Saat emosiku mereda, aku kembali tersadar dan teringat..  

‘Meminta yang terbaik’ adalah sudah lebih dari cukup.

Dan aku kembali meminta : bahwa jika aku memang belum siap, jangan tempatku aku disana. Tapi jika memang aku mampu, Engkaulah yang maha mengetahui tempatku, Ya Allah. Aku tahu Engkau Maha Mengetahui apa yang terbaik untukku.

Dan akhirnya disinilah aku sekarang. Dan detik ini aku sadar, mem-pending kuliahku adalah sesuatu yang baik..untuk saat ini. Karena Allah punya rencana yang lebih baik untukku sekarang.

 

Beberapa minggu yang lalu, aku pun mendapatkan panggilan untuk interview di sebuah perusahaan.

Kondisiku saat ini, membuat aku sangat ingin untuk mendapatkan pekerjaan itu, sehingga aku tidak melihat segala ‘pertanda’ dan kejanggalan yang ada pada proses itu. Setelah wawancara, aku terus berdoa, agar aku dapat diterima disana. Sampai akhirnya, temanku memberitahu sesuatu tentang perusahaan itu, dan aku sadar, untung..aku bertemu dia sebelum proses wawancara kedua. Saat itu aku semakin sadar, bahwa ‘meminta yang terbaik’ memang adalah pilihan yang terbaik. Bukan dengan memaksakan kehendak, tetapi menyerahkan semua pada Allah.. karena Allah yang Maha Mengetahui segalanya.

 

Ya.. saat ini aku menyadari makna dari ‘meminta yang terbaik’. Memang itu yang paling baik, untuk sekarang maupun nanti.. karena kehendak kita mungkin bukanlah pilihan yang paling baik.. Tuhan pasti yang paling tahu, oleh karena itu tidak semua doa harus dikabulkan kan?

Komentar bertahan »