Arsip untuk Juli, 2008

Indonesia & Pemanasan Global

Ngomongin pemerintah dan masalah lingkungan hidup, saya antara pro dan kontra. Karena ada beberapa kebijakan pemerintah yang membuat saya salut dan rasanya harus mengacungkan jempol, tapiii..ada juga peraturan yang membuat saya geram, dan gak habis pikir bagaimana petinggi-petinggi di pemerintahan sana bisa-bisanya berpikir seperti itu.

 

Salah satu peraturan yang membuat saya geram adalah PP No.2/2008, yaitu peraturan soal pengaturan tarif kompensasi pertambangan di hutan lindung dan hutan produksi, dimana hutan bisa disewakan dengan harga yang sangat murah!! Nyebelin banget gak siih? Ini sih namanya pengerusakan hutan terselubung, bayangin aja harga sewa satu hektarnya, diibaratkan WALHI, sama dengan harga pisang goreng. Pantas saja, dalam satu detik, hutan yang hilang sama dengan enam kali luas ukuran lapangan sepak bola. Ckckck..bisa2 sebentar lagi, hutan kita akan hilang  ;( 

Tapi..sebenarnya saya juga bangga dengan berbagai kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah. contohnya saja soal CFC, ingat kan iklan di TV yang ada Artika Sari Devi, yang isinya memberitahu bahwa CFC sudah dilarang di Indonesia (yippie..), ada juga iklan lain yang menyuruh kita menghemat, serta himbauan presiden SBY untuk menghemat energi. Dan yang paling membuat bangga adalah ketika tahun lalu, Bali menjadi tuan rumah konferensi iklim UNFCCC dimana Bapak Rachmat Witoelar menjadi presiden konferensi tersebut. Wuah..senangnya, yang akhirnya menghasilkan Bai Road Map. Ini membuktikan keseriusan Indonesia untuk masalah global warming..

Saya berharap nantinya memang bukan hangat2 tahi ayam saja (maksudnya di depan semangat, tapi begitu kebelakang sudah surut semangatnya). Semoga Indonesia memang menjadi negara yang peduli atas isu ini, dan kita sebagai warga negaranya dapat turut andil mengurangi pemanasan global ini. semoga! 

Komentar bertahan »

Menjadi Public Educator

Sudah kurang lebih 6 bulan, saya menjadi Public Educator (disingkat PE) di WWF. Kalo yang belum tahu pekerjaan saya ini, jadi..saya datang ke sekolah-sekolah, lalu presentasi tentang WWF, tentang iklim dan perubahannya (termasuk global warming), apa yang bisa dilakukan pelajar untuk mengerem global warming, terus mengajak anak-anak sekolahan ini untuk gabung jadi supporter WWF deh.

 

Menyenangkan banget jadi Public Educator, karena..membuat saya jadi tahu lebih banyak tentang iklim dan perubahannya. Berhubung saya anak baru, jadi yang lebih banyak ngomong yah..PE lamanya (hehe..agak gak enak juga sih, kayak magabut gitu ;p). Nah..bukan cuma anak2 sekolahan ini yang dapat ilmu, saya pun jadi bertambah banget ilmunya..

 

Contohnya saja nih ternyata dengan kita memakan ikan kerapu atau ikan napoleon misalnya, kita akan membantu merusakan laut lho.. Kriut..kriut..apa hubungannya? Nah..ternyata para nelayan menangkap ikan2 ini secara tidak bijak, misalnya menggunakan pukat harimau, atau bom.. Yang tadinya mau diambil cuma ikan kerapu..eh..ikan2 lainnya juga ikutan mati. Yang parahnya kalau yang banyak mati ikan2 yang masih kecil. Kalau hal ini berlangsung terlalu lama, regenerasi ikan akan jadi terhambat, dan..lama2 populasi ikan2 ini bisa terancam punah, dan otomatis ekosistem laut bisa terganggu dong. Terus juga..ini menyebabkan terumbu karang jadi rusak, jadi putih gitu..padahal terumbu karang di Indonesia masuk yang keberapa besar gituu di dunia.. ckckck. Terus penangkapan yang gak ramah ini otomatis bisa mencemarkan air laut kan? Nah..makanya kita2 sebagai pengkonsumsi, mesti mengkonsumsi secara bijak juga (untuk lebih jelasnya ikan mana 2 aja yang aman dikonsumsi, coba googling deh. Soalnya waktu itu aku dapat daftarnya dalam bentuk hard copy ;p)

 

Nah, itu tadi dari segi laut. Masih banyak lagi pengetahuan lain tentang lingkungan yang membuat saya tahu. Kayak misalnya, ternyata setiap detik, hutan di Indonesia itu hilang sebanyak 6 kali luas lapangan bola. Ckckck..bisa dibayangkan kan??Betapa gilanya eksploitasi terhadap hutan di Indonesia ini. Padahal dulunya Indonesia termasuk yang banyak banget kan kekayaan alam berupa hutannya ini. Dan lagi..setiap pohon yang hilang, itu berarti akan mengancam kehidupan makhluk hidup yang lain juga. Kayak misalnya burung yang tinggal di pohon itu..

 

Nah..anak2 sekolahan yang kita datengin ini pun ternyata banyak yang gak berdiam diri. Contohnya aja anak2 dari Santa Ursula, mereka terbiasa memisahkan sampah menurut jenisnya (organik, plastic, dsb), terus dari sampah2 bekas kaleng sof drink, mereka potong kecil2, terus merekabikin lukisan dari itu. Dan..laku sampai berapa juta gitu lukisan itu. Kreatif ya mereka?

 

Apa lagi yah?? Yah banyak lah yang bisa saya dapatkan selama menjadi PE ini. Dan seneng banget, setiap pengetahuan yang sudah saya dapatkan, dapat saya bagi pula ke orang lain. Dan saya harap orang lain itu juga menyampaikan ke temannya yang lain. Terus kita semua dapat melakukan suatu wujud nyata untuk mengurangi global warming’. Dan pada akhirnya kita dapat kembali menginjakkan kaki di bumi yang bebas polusi dan bebaas dari bencana alam

Aminnnn..      

Komentar bertahan »

Polusi di Ibukota. Kapankah berakhir?

Waktu jaman SMA dulu, saya terbiasa pergi ke sekolah naik ojek. Hal ini karena sekolah saya yang dekat dengan rumah, selain itu saya juga tukang telat, jadi..dengan memakai ojek, saya kan bisa nyelip2, dan gak terlambat deh sampai ke sekolah. Hehehe.. Di perjalanan, walaupun cuma sebentar, tapi saya sering sekali harus bersaing dengan bis-bis kota yang kalau ngeluarin asap..uhuk..uhuk..bikin batuk dan mata perih

 

Setelah saya kuliah..saya tidak lagi harus berojek2 ria, dan saya merasakan beberapa perbedaan. Rasanya udara yang saya hirup sekarang lebih fresh dan rasanya menyenangkan. Rasanya muka saya udah lebih bersih dan gak butek lagi. Ternyata..Sekarang saya juga baru tahu kalau Jakarta tuh kota terpolusi ke 3 di dunia. Ckckck..pantesan rasanya gak enak banget udaranya setiap saya berangkat ke sekolah, padahal cuma 10 menit aja. Pantesan ibu saya selalu nyuruh saya pakai masker setiap naik ojek, tapi sayanya aja yang selalu ngebandel ;p.

 

Coba aja nengok ke atas awan kalau gak percaya udara kota Jakarta sudah sebegitu parahnya. Udaranya tuh butek, kayak terselimut sama apaaaa..gitu. Gak enak dilihat lah pokoknya. Bandingin aja udara di jalan sudirman sama di pematang sawah. Bedaaa..banget.

 

Kapan ya, saya bisa menghirup udara yang bebas polusi di Jakarta? Nunggu pemerintah bertindak tegas dan memberikan bis layak jalan pada bis yang mengeluarkan knalpot itu? Nunggu pabrik-pabrik berporduksi lebih ramah lingkungan? Atau menunggu penduduk Jakarta menjaga lingkungannya? Umm..sampai kapan ya saya harus menunggu?

 

Ngomong2 soal polusi, saya jadi teringat dengan komunitas bersepeda. Saya senang banget sebenarnya dengan berdirinya komunitas ‘bike to work’ atau ‘bike to campus’, Tetapi..dengan udara Jakarta yang penuh dengan polusi ini, saya sekaligus kasihan dengan mereka. Mereka harus memakai segala macam peralatan, seperti masker, agar terhindar dari polusi kota ini. Jadi..ayo kita bantu menyukseskan gerakan mereka. Kalau belum bisa memakai sepeda secara rutin seperti mereka, yah..setidaknya kita tidak lagi berkontribusi pada peningkatan polusi di ibukota ini. Ya gak?

Komentar bertahan »

Habisin Makananmu ;)

Komitmen tersederhana yang gw buat untuk mengurangi pemanasan global (yang belum gw tulis di postingan sebelumnya) adalah : Makan makanan yang ada di piring gw sampai habis

Kalau dilihat sekilas, gak nyambung banget yahh

Tapi..sebenarnya segala hal yang kita hemat itu bisa turut mengurangi pemanasan global

Hemat disini maksudnya adalah memakai segala sesuatu secara bijak, tidak berlebih2an (boros) maupun tidak kekurang2an (pelit)

Jadi..kalau makan yah..dihabiskan sampai titik darah penghabisan, kalau mandi yah..pakai air secukupnya, kalau TV udah gak ditonton yahh dimatiin (atau kalau udah ngantuk, ya..ditimerlah)

Balik lagi ke makanan..

Sadar gak siiih, sering banget habis makan kita ninggalin piring gak licin tandas?

Nah..mungkin kita mikir ‘yaudahlah, segitu doang’ atau malah udah jadi kebiasaan bagi sebagian orang yang lain

Kalau setiap orang di dunia berpikir seperti ini, menyisakan sebutir dua butir nasi, ada berapa nasi yang terbuang setiap harinya? Mungkin sampai beratus2 kilo kali yaaa? Dan terbuang untuk sesuatu yang percuma juga

Nah..sampah makanan ini pada akhirnya hanya akan menambah tumpukan2 sampah di seluruh dunia saja

Padahal..masalah sampah di Jakarta saja belum bisa dibereskan (ingat peristiwa Bantar Gebang kala itu?)

Nah..ini mesti ditambah dengan sampah yang sebenarnya bisa dihilangkan

Dan..sampah2 ini juga akan meninggalkan jejak, yang nantinya akan berpengaruh pada peningkatan gas ‘efek rumah kaca’

So..apa salah sih menghabiskan makanan yang sudah kita ambil?

Kita mengambilnya dengan kesadaran sendiri, jadi..menghabiskannya pun seharusnya menjadi tanggung jawab dan kesadaran kita sendiri

Jadi..pikirin deh, setiap kita malas untuk ngehabisin makanan di piring kita, tolong pikirin berapa banyak tumpukan sampah yang harus ada di TPA untuk sebuah hal percuma, berapa waktu yang terbuang percuma untuk mendaur ulang sampah makanan kita hanya karena malas, berapa tahun yang dibutuhkan tanah untuk mengurai sampah yang kita buang atas nama ‘gue udah kenyang, jadi gak sanggup makan lagi yang ada di piring ini’, dan seberapa cepat pemanasan global akan naik karena kontribusi kita membuang2 sampah tersebut.

Just think about it!!

Komentar bertahan »

Alam & Kita

Mungkin sebagian besar dari kita sudah tahu, atau menjadi tahu, cara kerja alam setelah beberapa tahun terakhir ini kita dibombardir dengan isu pemanasan global

Tapi..untuk yang belum tahu akan saya singgung lagi..untuk sama-sama merefresh ingatan kita

Bumi merupakan satu-satunya planet yang ditinggali oleh manusia karena..suhu didalamnya yang cocok untuk ditinggali manusia (tidak terlalu panas maupun terlalu dingin), sehingga kita pun dapat bertahan hidup di dalamnya

Nah..pertanyaannya..kenapa bumi menjadi satu-satunya planet yang hangat ditengah angkasa yang dingin ini??

Ini semua karena proses yang dinamakan ‘efek rumah kaca’

Jadi..cara kerjanya..matahari mengirimkan cahaya pada bumi, ketika sampai ke atmosfer…sebagian cahaya ini akan dipantulkan lagi ke matahari sedangkan sebagian lagi akan diserap ke bumi, sehingga bumi pun mendapat panas matahari.. Hal ini bagus karena kalau tidak ada proses tadi maka..bumi kita akan sangat dingin, yang artinya tidak memungkinkan manusia untuk hidup di dalamnya

Nah..di atmosfer ini, ada bagian yang bertugas untuk mengatur suhu panas bumi agar tetap stabil,, namanya ‘gas rumah kaca’ (dinamakan seperti itu karena proses kerjanya yang sama dengan rumah kaca, dimana rumah kaca ini berfungsi untuk menahan panas matahari agar tanaman tumbuh dengan baik). Gas rumah kaca ini contohnya metana, karbon dioksida, dll, yang bertugas untuk ‘memerangkap’ panas matahari agar bumi panasnya tetap stabil

Terus..kenapa sampai terjadi pemanasan global?

Nah..yang terjadi sejak revolusi industri, gas rumah kacanya semakin banyak, akibatnya, semakin banyak pula cahaya matahari yang diserap ke bumi

Dan akhirnya..seperti yang terjadi saat ini, naiknya temperatur rata2 bumi, yang dampaknya pun bisa kita rasakan sama2 PUANAS BWANGET..

Nah..setelah saya renungkan kembali, pemanasan global ini menyadarkan kita akan arti KESEIMBANGAN dan HUBUNGAN TIMBAL BALIK

Coba saja kita lihat cara kerja alam..

Semua saling berhubungan

Jika ada yang tidak beres pada yang satu, maka akan berpengaruh pada hal lain..

Gusti Allah telah mengatur alam untuk berjalan secara selaras dan seimbang

Matahari mengirim cahaya, bumi pun menerima dengan baik

Semua berlangsung seperti itu sepanjang beratus-ratus tahun (atau bahkan berpuluh2 ribu tahun ya ;p)

Sayangnya..

Kita, manusia, semakin lama semakin jauh dengan alam

Menganggap kita adalah kita, manusia berintelektualitas tinggi

Sedangkan alam adalah alam, yang bisa kita eksploitasi di sana-sini untuk kepentingan kita

Kita merasa berada di atas alam, merasa bisa mengatur alam, dengan bermodalkan intelektual dan uang

Tapi..kita lupa,.karma itu ada..

Semua memiliki hubungan timbal balik

Ketika kita melakukan hal baik, maka kebaikanlah nantinya yang akan menghampiri kita, begitupun sebaliknya

Itu yang saya percaya, dan yang sedang saya lihat pada diri kita

Membangun pabrik disana-sini, membuang limbah ke sungai, atau..menebang hutan ini dan itu tanpa membangun kembali

Kita melihat, uang pun dapat berbicara, dan voila..masalah pun beres..

Tapi..kita sepertinya lupa..

Mungkin urusan dengan sesama manusia memang sudah beres..

Pemerintah setempat terima, rakyat (yah..walaupun dengan berat hati) akhirnya terpaksa menerima dengan dumelan dan caci makian dibelakang

Tapi,,ada yang masih belum kita perhatikan

Yang menumpuk amarah sedikit demi sedikit

Dan akhirnya..kebakaran hutan di satu tempat, lumpur lapindo di tempat lain, dan tsunami disana

Dibuat untuk menyadari buaian indah kita, bahwa ada pembalasan untuk perbuatan sewenang-wenang kita

Ya..itulah ALAM..

Sesuatu yang kita anggap remeh

Sesuatu yang rasanya bisa kita taklukan

Tapi..ada kekuatan lebih besar dari itu yang diberikan Allah padanya

Yang akhirnya membuat kita..manusia

Kalang kabut menghadapi fenomena yang disebut2 sebagai ‘pemanasan global’

Dan mungkin memang perlu ‘global warming’ untuk membuat kita, manusia, menyadari bahwa ada terlalu banyak hewan ternak didunia sampai angkanya hampir menyamai populasi manusia

Untuk membuat kita menyadari terlalu banyaknya listrik yang kita buang percuma hanya karena MALAS

Untuk membuat kita menyadari bahwa perlu adanya keseimbangan untuk membuat ini menjadi normal kembali

Perlu adanya keseimbangan untuk membuat gas2 rumah kaca berada dalam posisi normal yang pada akhirnya mengembalikan temperatur bumi pada suhu normalnya

Dan pada akhirnya..

Kita dibuat (atau ‘dipaksa’ untuk) sadar bahwa alam dan kita adalah sebuah hubungan timbal balik..

Membuat kita mulai mengelus-elus alam kembali

Membuat perjanjian dan permintaan maaf untuk kembali bersatu dengan alam..

Semoga..alam mau memafkan kita

Untuk segala kerusakan dan kejahatan yang kita perbuat untuk alam

Semoga..kata maaf itu belum terlambat kita ucapkan dan wujudkan bagi alam

Yah..semoga..  

Komentar (1) »