Arsip untuk Juli 21, 2008

Vegetarian? Kenapa Enggak..

Vegetarian..

Apa yang Anda pikirkan saat mendengar kata tersebut? Jika ini ditanyakan pada saya beberapa bulan yang lalu, mungkin hal yang langsung terlintas dalam benak saya adalah seseorang yang berpikir terlalu jauh, penyayang binatang, atau orang suci. Pokoknya sesuatu yang  “Bukan gw banget!!”. Saya pikir, di lingkungan yang menuntut hidup serba cepat saat ini, rasanya tidak terbayang, kalau saya harus memasak sayur asem, cap cay, atau aneka sayur lainnya, demi menjadi seorang vegetarian. Terlebih lagi, makanan di kantin kampus, saya yang notabene menyediakan aneka macam daging dan ayam dengan berbagai bentuk dan variasi. Makanan yang ada di mall-mall atau restoran pun, rasanya, hanya menyediakan sedikit sekali sayuran. Jadi..rasanya benar-benar sesuatu yang mustahil untuk menjadi seorang vegetarian.

 

Beberapa bulan yang lalu, saya baru tahu kalau ternyata teman saya adalah seorang vegetarian. Saya hanya berdecak kagum melihat dia. Benar-benar tidak terbayang di benak saya untuk menjadi seorang seperti dia. Selain itu, Vika, teman kampus saya, juga pernah berkata, ‘Gw mau jadi vegetarian, ah, karena gw gak tahan kalo ngebayangin gimana binatang-bintanag itu dibunuh’. Dan masih segar di ingatan saya, bagaimana waktu itu saya menentang dia, “Mana bisalah, di kampus kita ini, jadi vegetarian, secara makanannya ayam semua. Nanti aja kalau loudah kerja.” (maksudnya akan repot) 

 

Tetapi..beberapa belas hari yang lalu, sebuah buku (buku berjudul “GLOBAL WARMING”, yang dapat didownload secara gratis di www.hidupmulia.wordpress.com) mengubah pandangan saya. Dari situ, saya merasa malu sekaligus kagum, mengapa selama ini, saya yang menggembar-gemborkan diri menjadi seorang pencinta lingkungan. Ternyata..sama sekali tidak tahu, bahwa ada cara yang paling mudah dan tidak mengeluarkan banyak energi untuk menyelamatkan bumi kita, untuk mengurangi pemanasan global?? Yaitu..dengan menjadi seorang ..Vegetarian.

 

Lah..apa hubungannya? Pasti itu yang terlintas di benak Anda. Itu juga yang muncul di benak saya ketika belum mengetahui akan hal ini dan melihat spanduk “Selamatkan Bumi, Jadilah Vegetarian”. Rasanya benar-benar gak masuk diakal dan gak ada hubungannya, antara mengganti pola makan dengan penyelamatan bumi. Tapi..jika kita berpikir sejenak mengenai asal dari sate, hamburger, rendang, yang ada di piring kita saat makan malam, mungkin Anda akan mengerti apa yang saya maksud. Seperti yang kita semua tahu, daging-dagingan yang kita makan berasal dari peternakan. Nah, peternakan ini bukanlah sebuah industri yang murah. Sebut saja, pembiayaan listrik untuk lampu, mesin pemotong daging, mesin pendingin daging, dll; transportasi dari peternakan ke distributor dan konsumen; sumber-sumber pendukung yang lain, seperti suntikan hormon dan vitamin-vitamin. Seluruh energi tersebut membutuhkan bahan bakar fosil (seperti batu bara), yang merupakan bahan bakar yang tidak dapat diperbaharui, emisinya pun turut berperan dalam penumpukan gas rumah kaca. Fakta yang lebih mengejutkan, ternyata 2/3 hasil dari lahan pertanian disalurkan untuk sektor peternakan; dan berarti hanya 1/3 nya saja yang disalurkan untuk manusia. Dan setelah dikalkulasikan, makanan untuk peternakan sapi saja dapat menyedot makanan yang cukup untuk 8,7 miliar orang di dunia(lebih dari populasi orang di dunia). Jadi, kalau bisa diandaikan, jika semua orang bervegetarian, maka hasil pertanian yang tadinya 2/3nya untuk sektor peternakan, dapat dialihkan untuk manusia. Logisnya, kalau kita bisa mencerna padi dan gandum sendiri, mengapa harus melalui bantuan sapi untuk memakan hasil tani, baru kita makan sapi tersebut??

 

Dari hewannya sendiri, ternyata juga menjadi penyumbang gas rumah kaca yang cukup besar. Sebut saja sapi yang secara alami memang mengeluarkan metana dari dalam perut selama proses mencerna makanan (metana merupakan gas dengan emisi gas rumah kaca yang 23 kali lebih buruk dibandingkan CO2). Selain itu, kotoran hewan ini juga mengandung NO2 (mengandung emisi gas yang 300 kali lebih buruk dibandung CO2). Sebenarnya hal ini tidak menjadi masalah, tetapi yang menjadi masalah adalah TERLALU BANYAKnya populasi hewan ternak ini akibat permintaan pasar yang juga banyak mengakibatkan hal ini menjadi berbahaya. Seperti kotoran hewan yang sebenarnya bisa diolah menjadi pupuk urea, tetapi..karena saking banyaknya jumlah hewan tersebut (di AS saja, hewan tersebut dapat menghasilkan 39,5 ton kotoran per detik), sebagian besar kotoran tersebut pun tidak dapat diolah dan akhirnya dibuang ke sungai (yang mana juga menyebabkan pencemaran air bersih).

 

Hal ini diperkuat oleh perkataan Rajendra Pachauri, ketua dari panel perubahan iklim PBB yang juga pemenang hadiah Nobel, bahwa untuk mengerem global warming, maka yang harus dilakukan adalah tidak makan daging, kendarai sepeda, dan jadilah konsumen yang hemat. Ditaruhnya ‘menjadi vegetarian’ di urutan pertama menunjukkan keseriusan dampak dari hal ini. Seperti terlihat dalam laporan PBB yang dirilis November 2006, bahwa 18 % emisi gas rumah kaca berasal dari pemeliharaan hewan-hewan ternak. Buku yang saya baca juga menyebutkan bahwa sebuah penelitian yang mengatakan bahwa dengan menjadi vegetarian maka akan menyelamatkan setengah hektar pohon setiap tahunnya. Bahkan perbandingan lebih dahsyatnya, seorang vegetarian yang mengendarai SUV Hummer lebih bersahabat dibandingkan seorang pemakan daging yang bersepeda.

 

Menjadi vegetarian pun selain berdampak baik bagi pengereman global warming, juga berdampak baik bagi diri kita sebagai individu. Fakta yang saya baru tahu adalah ternyata tubuh kita disetting untuk lebih dapat menerima sayur-sayuran dibandingkan daging. Oleh karena itu, makanan seperti daging diolah berjam-jam di usus kita, bahkan tak jarang sampai ada pembusukan (yang dapat menyebabkan kanker usus), sementara sayur dan buah-buahan cepat diserap dan diolah oleh usus. Selain itu dengan memakan daging, akan lebih banyak penyakit yang timbul, seperti kolesterol, dll. (untuk lebih jelasnya dapat dilihat di www.hiduplebihmulia.wordpress.com, folder ‘cinta kasih’).

 

Saya sendiri setelah membaca artikel demi artikel semakin tertarik untuk bergerak ke pilihan hidup vegetarian. Hal yang tadinya saya kira berat menjadi lebih ringan dan masuk akal untuk diikuti. Misalnya, Tadinya saya berpikir, saya memang suka sayur-sayuran, tetapi..memakan itu semua SETIAP HARI tanpa adanya daging? Duh..rasanya gak sanggup deh. Setelah saya pikir-pikir lagi, kan sekarang ada gluten (protein tepung yang rasanya mirip daging), jadi saya tetap dapat makan-makanan yang bervariasi. Lagipula, di mall-mall pun sekarang sudah mulai ada yang menyediakan makanan untuk vegetarian, seperti misalnya kebab veggie. Dan bukan hal yang mustahil, jika semakin banyak orang beralih menjadi vegetarian, maka akan semakin banyak pula variasi makanan untuk pencinta sayur dan buah-buahan ini.

 

So..sekarang saya pun mencoba menjadi vegetarian selama satu hari dalam seminggu (hehe..semua butuh proses). Semoga di akhirnya, saya dapat menjadi vegetarian sejati. Kalo kamu sendiri bagaimana?        

Komentar (5) »