Arsip untuk Juli 31, 2008

Indonesia & Pemanasan Global

Ngomongin pemerintah dan masalah lingkungan hidup, saya antara pro dan kontra. Karena ada beberapa kebijakan pemerintah yang membuat saya salut dan rasanya harus mengacungkan jempol, tapiii..ada juga peraturan yang membuat saya geram, dan gak habis pikir bagaimana petinggi-petinggi di pemerintahan sana bisa-bisanya berpikir seperti itu.

 

Salah satu peraturan yang membuat saya geram adalah PP No.2/2008, yaitu peraturan soal pengaturan tarif kompensasi pertambangan di hutan lindung dan hutan produksi, dimana hutan bisa disewakan dengan harga yang sangat murah!! Nyebelin banget gak siih? Ini sih namanya pengerusakan hutan terselubung, bayangin aja harga sewa satu hektarnya, diibaratkan WALHI, sama dengan harga pisang goreng. Pantas saja, dalam satu detik, hutan yang hilang sama dengan enam kali luas ukuran lapangan sepak bola. Ckckck..bisa2 sebentar lagi, hutan kita akan hilang  ;( 

Tapi..sebenarnya saya juga bangga dengan berbagai kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah. contohnya saja soal CFC, ingat kan iklan di TV yang ada Artika Sari Devi, yang isinya memberitahu bahwa CFC sudah dilarang di Indonesia (yippie..), ada juga iklan lain yang menyuruh kita menghemat, serta himbauan presiden SBY untuk menghemat energi. Dan yang paling membuat bangga adalah ketika tahun lalu, Bali menjadi tuan rumah konferensi iklim UNFCCC dimana Bapak Rachmat Witoelar menjadi presiden konferensi tersebut. Wuah..senangnya, yang akhirnya menghasilkan Bai Road Map. Ini membuktikan keseriusan Indonesia untuk masalah global warming..

Saya berharap nantinya memang bukan hangat2 tahi ayam saja (maksudnya di depan semangat, tapi begitu kebelakang sudah surut semangatnya). Semoga Indonesia memang menjadi negara yang peduli atas isu ini, dan kita sebagai warga negaranya dapat turut andil mengurangi pemanasan global ini. semoga! 

Komentar bertahan »

Menjadi Public Educator

Sudah kurang lebih 6 bulan, saya menjadi Public Educator (disingkat PE) di WWF. Kalo yang belum tahu pekerjaan saya ini, jadi..saya datang ke sekolah-sekolah, lalu presentasi tentang WWF, tentang iklim dan perubahannya (termasuk global warming), apa yang bisa dilakukan pelajar untuk mengerem global warming, terus mengajak anak-anak sekolahan ini untuk gabung jadi supporter WWF deh.

 

Menyenangkan banget jadi Public Educator, karena..membuat saya jadi tahu lebih banyak tentang iklim dan perubahannya. Berhubung saya anak baru, jadi yang lebih banyak ngomong yah..PE lamanya (hehe..agak gak enak juga sih, kayak magabut gitu ;p). Nah..bukan cuma anak2 sekolahan ini yang dapat ilmu, saya pun jadi bertambah banget ilmunya..

 

Contohnya saja nih ternyata dengan kita memakan ikan kerapu atau ikan napoleon misalnya, kita akan membantu merusakan laut lho.. Kriut..kriut..apa hubungannya? Nah..ternyata para nelayan menangkap ikan2 ini secara tidak bijak, misalnya menggunakan pukat harimau, atau bom.. Yang tadinya mau diambil cuma ikan kerapu..eh..ikan2 lainnya juga ikutan mati. Yang parahnya kalau yang banyak mati ikan2 yang masih kecil. Kalau hal ini berlangsung terlalu lama, regenerasi ikan akan jadi terhambat, dan..lama2 populasi ikan2 ini bisa terancam punah, dan otomatis ekosistem laut bisa terganggu dong. Terus juga..ini menyebabkan terumbu karang jadi rusak, jadi putih gitu..padahal terumbu karang di Indonesia masuk yang keberapa besar gituu di dunia.. ckckck. Terus penangkapan yang gak ramah ini otomatis bisa mencemarkan air laut kan? Nah..makanya kita2 sebagai pengkonsumsi, mesti mengkonsumsi secara bijak juga (untuk lebih jelasnya ikan mana 2 aja yang aman dikonsumsi, coba googling deh. Soalnya waktu itu aku dapat daftarnya dalam bentuk hard copy ;p)

 

Nah, itu tadi dari segi laut. Masih banyak lagi pengetahuan lain tentang lingkungan yang membuat saya tahu. Kayak misalnya, ternyata setiap detik, hutan di Indonesia itu hilang sebanyak 6 kali luas lapangan bola. Ckckck..bisa dibayangkan kan??Betapa gilanya eksploitasi terhadap hutan di Indonesia ini. Padahal dulunya Indonesia termasuk yang banyak banget kan kekayaan alam berupa hutannya ini. Dan lagi..setiap pohon yang hilang, itu berarti akan mengancam kehidupan makhluk hidup yang lain juga. Kayak misalnya burung yang tinggal di pohon itu..

 

Nah..anak2 sekolahan yang kita datengin ini pun ternyata banyak yang gak berdiam diri. Contohnya aja anak2 dari Santa Ursula, mereka terbiasa memisahkan sampah menurut jenisnya (organik, plastic, dsb), terus dari sampah2 bekas kaleng sof drink, mereka potong kecil2, terus merekabikin lukisan dari itu. Dan..laku sampai berapa juta gitu lukisan itu. Kreatif ya mereka?

 

Apa lagi yah?? Yah banyak lah yang bisa saya dapatkan selama menjadi PE ini. Dan seneng banget, setiap pengetahuan yang sudah saya dapatkan, dapat saya bagi pula ke orang lain. Dan saya harap orang lain itu juga menyampaikan ke temannya yang lain. Terus kita semua dapat melakukan suatu wujud nyata untuk mengurangi global warming’. Dan pada akhirnya kita dapat kembali menginjakkan kaki di bumi yang bebas polusi dan bebaas dari bencana alam

Aminnnn..      

Komentar bertahan »

Polusi di Ibukota. Kapankah berakhir?

Waktu jaman SMA dulu, saya terbiasa pergi ke sekolah naik ojek. Hal ini karena sekolah saya yang dekat dengan rumah, selain itu saya juga tukang telat, jadi..dengan memakai ojek, saya kan bisa nyelip2, dan gak terlambat deh sampai ke sekolah. Hehehe.. Di perjalanan, walaupun cuma sebentar, tapi saya sering sekali harus bersaing dengan bis-bis kota yang kalau ngeluarin asap..uhuk..uhuk..bikin batuk dan mata perih

 

Setelah saya kuliah..saya tidak lagi harus berojek2 ria, dan saya merasakan beberapa perbedaan. Rasanya udara yang saya hirup sekarang lebih fresh dan rasanya menyenangkan. Rasanya muka saya udah lebih bersih dan gak butek lagi. Ternyata..Sekarang saya juga baru tahu kalau Jakarta tuh kota terpolusi ke 3 di dunia. Ckckck..pantesan rasanya gak enak banget udaranya setiap saya berangkat ke sekolah, padahal cuma 10 menit aja. Pantesan ibu saya selalu nyuruh saya pakai masker setiap naik ojek, tapi sayanya aja yang selalu ngebandel ;p.

 

Coba aja nengok ke atas awan kalau gak percaya udara kota Jakarta sudah sebegitu parahnya. Udaranya tuh butek, kayak terselimut sama apaaaa..gitu. Gak enak dilihat lah pokoknya. Bandingin aja udara di jalan sudirman sama di pematang sawah. Bedaaa..banget.

 

Kapan ya, saya bisa menghirup udara yang bebas polusi di Jakarta? Nunggu pemerintah bertindak tegas dan memberikan bis layak jalan pada bis yang mengeluarkan knalpot itu? Nunggu pabrik-pabrik berporduksi lebih ramah lingkungan? Atau menunggu penduduk Jakarta menjaga lingkungannya? Umm..sampai kapan ya saya harus menunggu?

 

Ngomong2 soal polusi, saya jadi teringat dengan komunitas bersepeda. Saya senang banget sebenarnya dengan berdirinya komunitas ‘bike to work’ atau ‘bike to campus’, Tetapi..dengan udara Jakarta yang penuh dengan polusi ini, saya sekaligus kasihan dengan mereka. Mereka harus memakai segala macam peralatan, seperti masker, agar terhindar dari polusi kota ini. Jadi..ayo kita bantu menyukseskan gerakan mereka. Kalau belum bisa memakai sepeda secara rutin seperti mereka, yah..setidaknya kita tidak lagi berkontribusi pada peningkatan polusi di ibukota ini. Ya gak?

Komentar bertahan »