7 is lucky number for Penny. Ya, teman baik saya, Penny sangat suka angka 7 karena pada tanggal itu ia berulang tahun, tepatnya tanggal 7 Februari. She got pair of ducks this years (aku dapet istilah ini dari Prabu, waktu dia ulangatahun yang ke 22 dia bilang kalo dia dapet pair of ducks, karena bentuk dua yang mirip bebek, dan aku kira dia dapet bebek beneran. Haha..bodoh). Aniwei, berhubung saya senang memberikan surprise, jadi kali ini pun saya dan Endah berencana ngasih surprise ke Penny, dateng pagi-pagi ke rumahnya, ternyata eh ternyata..ujan dereees banget. Yasudahlah kita berganti rencana, dan akhirnya jadilah kita terdampar di Pacific Place menonton Curious Case of Benjamin Button dan makan Sushi Tei di Senayan City (baru tau gwa kalo mau makan daging mentah aja mesti ngantri panjaaang bener).
Ok, yang mau saya ceritakan disini adalah review dari film Benjamin Button itu sendiri (one of my resolution). Dari sebelum nonton, sebenernya saya udah agak2 penasaran, secara banyak orang merekomendasikan film ini. Humm..sebagus apa sih film ini. We’ll see.. Saya sendiri suka dengan film ini dan sangat mendetail, saya sebagai penonton ngerasa kayak didongengin sebuah novel. Dan saking mendetailnya itu, bisa dengan suksesnya ngebuat Penny dan Endah tertidur! Emang yah, mereka dari dulu gak berubah, dari Jaman SMA dulu, waktu kita ber4 masih suka nyewa DVD di Kemchicks-Kemang, pas nonton film romantis, saya dan Nabila sedang terpesona dengan filmnya, tiba-tiba Penny sama Endah udah tertidur pulas aja gituuu.
Yasudahlah, balik lagi ke ceritanya yaaa.. Film ini dimulai dengaaan seorang laki-laki dan perempuan yang saling mencintai di masa kecil, dan tiba-tiba waktu besar ketemu lagi tetapi saat itu si laki-laki udah menjadi kontraktor yang mau menghancurkan sekolah tempat si cewek ngajar karena ingin membuat sebuah lapangan golf. Agak bingung ya gwee, gini nih Benjamin Button, apa iklan? Tapi kok kalo iklan panjang bangeet? Akhirnya ke jawab di tengah cerita, dimana si cewek memakai PONDS. Jeger..ternyata ini cerita pendek PONDS atau apalah, yang ternyata lama juga yaaa..sekitar 15-20 menitan sendiri. Udah agak males deh gw. Gw pun memilih menghabiskan ice cream dan burger yang udah dibeli duluan di Wendys. Ok, beberapa saat kemudian, mulailah Benjamin Buttonnya. Horee. Kisahnya dimulai dari seorang ibu yang meninggal setelah melahirkan anaknya. Ayahnya, yang merasa si anak penyebab kematian istrinya, berniat membunuh anak ini di tepi laut. Sayangnya, udah keburu ketahuan sama penjaga disana, ia pun akhirnya menaruh anaknya ini di depan sebuah panti jompo. Anak ini ternyata memiliki berbagai komplikasi yang diprediksi dokter kalau ia gak akan berumur panjang. Ibu penjaga panti jompo, yang udah terlanjur jatih cinta sama bayi kecil mungil ini, memutuskan untuk merawat anak ini yang akhirnya dikasih nama Benjamin. Ternyata..selain gak bisa berumur panjang, Benjamin punya satu keanehan. Mukanya terlihat kayak orangtua! Makanya waktu dia umur 7 tahun, mukanya gak ada bedanya dengan penghuni panti jompo yang lain, yang memang udah aki dan nini nini. Karena kakinya gak begitu kuat, ia pun harus puas duduk terus di kursi roda dan gak bisa menikmati dunia luar seperti layaknya anak-anak seumurannya. Tingal di panti jompo seperti itu membuat Benjamin harus siap kehilangan teman yang dengan cepat berganti teman baru. Ya..namanya orang jompo pasti ia datang kesana untuk menghabiskan hari-hari tuanya kan? Jadi Benjamin udah terbiasa dengan pemakaman dan tidak adanya si A, yang kamarnya dengan cepat berganti miliki si C. Kalau weekend biasanya keluarga dari anggota panti jompo ini diperbolehkan menengok. Nah, suatu ari datanglah cucu dari seorang nenek disana. Matanya yang biru dan rambut yang kecoklatan langsung mencuri perhatian Benjamin, ia jatuh cinta dengan gadis itu. Ihiiy. Namanya (aaargh..kenapa gw cepet ngelupain nama orang ya? Anggap aja namanya Isabel). Mereka pun menjadi dekat dan berteman karena Isabel percaya kalau Benjamin ini memang seumuran dengannya. Hari berganti hari, yang anehnya adalaaah.. semakin hari Benjamin terlihat lebih muda, yang dulunya bungkuk, sekarang sudah tegap. Yang dulunya botak, sekarang rambutnya utuh, walaupun putih semua. Ya..pokoknya dia makin lama makin kelihatan muda.
Saat 17 tahunan gitu, ia akhirnya meminta ijin untuk keluar dari rumah dan pergi menjadi pelaut. Ia pun berjanji pada Isabel untuk mengirim kartupos setiap ia menunjungi suatu daerah. Jadilah ia berpetualang pergi dari satu kota ke kota lain. Ia merasakan berbagai petualangan baru, mulai dari ‘minum’, ‘having sex’ dari rumah bordil, dan mencintai wanita. Ya..dia mencintai wanita yang merupakan istri dari seorang mentri, mereka sama-sama menginap di hotel yang sama, senang mengobrol bersama di malam hari, dan akhirnya jatuh cinta aja gitu. Tapi tiba-tiba si wanita ini pergi gitu aja (kayaknya gara-gara suaminya tau perselingkuhan mereka) dan cuma ninggalin Benjamin sepucuk surat yang isinya gak meaning sih menurut gw. “Have a good day” atau apalah (tuh kan saking gak pentingnya gw sampe lupa). Oh ya ditengah film diceritakan kalau Benjamin ketemu bapaknya yang ternyata pengusaha kancing no.1 (makanya nama belakangnya “Button”) dan akhirnya ia diwarisi perusahaan bapaknya. Ia pun akhirnya bertemu kembali dengan Isabel yang udah menjadi penari balet terkenal. Oh ya, seperti yang udah gw ceritain sebelumnya, Benjamin ini semakin hari menjadi semakin muda (yang sebenernya adalah letak keunikan dari film ini, dimana Benjamin memiliki siklus kehidupan terbalik dengan orang normal, tua ke muda), dan Benjamin muda adalaaah.. Brad Pitt. Woow..ganteng abiiiis. Oklah ya, singkat kata, akhirnya Benjamin dan Isabel hidup bersama, oh ya FYI Isabel meninggalkan dunia baletnya karena mengalami kecelakaan yang menyebabkan kakinya patah sehingga ia akhirnya harus puas dengan mendirikan sekolah balet saja. Setelah mereka hidup bersama, lahirlah seorang anak. Disini udah mulai timbul konflik dalam diri Benjamin, dia takut bayinya seperti dia, ia juga takut kalau misalnya anak normal tetapi memiliki ayah yang tidak normal, takut dengan Isabel yang nantinya harus mengurus 2 anak (anaknya dan Benjamin yang berubah menjadi semakin kecil). Akhirnya ketakutan-ketakutan itu menyebabkan Benjamin pergi dari rumah setelah anaknya berusia 1 tahun, sbeelum anaknya bisa mengingat ayahnya. Jadilah Benjamin akhirnya semakin menciut, kembali menjadi remaja, anak-anak, dan bayi. Saat menjadi anak-anak, ia mengalami amnesia dan ditemukan di jalanan dengan membawa buku diari dirinya, Ia akhirnya dirawat oleh Isabel sampai menjadi bayi, dan akhirnya meninggal di pelukan Isabel..
Dari film ini, gw belajaaar :
1. Menyadari akan siklus kehidupan manusia, dan semakin menghargai setiap tahap kehidupan yang udah dikasih Allah padaku. Tiba-tiba terbuka matanya betapa beruntungnya saya dan betapa Allah memang sudah memiliki rencananya sendiri untuk menjadikan kita memiliki siklus hidup dari muda-tua. Coba kalau dibalik, kayak Benjamin Button. Merasakan kesakitan dan pahitnya dunia (sakit2 tua dan segala ketidakberdayaan orangtua) dulu baru merasakan kesenangan dunia? Humm.. Kalau dari bayi, memang sama-sama tidak berdaya seperti orangtua sih, tetapi kan seenggaknya waktu bayi kita belum bisa mikir kayak orangtua? *hehe,,ngeles kayak bajay.
2. Semua orang pasti meninggal. saya jadi merasa diingatkan kembali untuk lebih berguna dan bermanfaat selama hidup di dunia ini.
3. Seluruh kejadian dalam dunia ini memang sudah diatur. Satu kejadian aja ada yang tidak sesuai dengan ‘skenario’ Tuhan maka kejadian lain tidak akan terjadi. Coba bayangin, saat pembunuh Kennedy nembakin pelurunya, tiba-tiba Kennedy nunduk, atau geser 1 cm aja, mungkin ia gak akan meninggal. Ya gak? Dan itu digambarin dengan bagus banget di film ini saat adegan Isabel ketabrak mobil. Really love that scene.
4. Kalo jodoh gak kemana. Hehe..STD abis. Tapi yaah..ini juga yang emang terjadi. Dari kecil udah suka-sukaan, dan akhirnya jadi juga. Walaupun Isabel dan Benjamin cuma sebentar mengecap manisnya cinta (jijay bahasa gwa), tapi ya intinya muter2 jodohnya ya dia dia juga..
5. Kita tidak bisa memilih takdir kita. Mungkin kita ditakdirkan menjadi anaknya miliuner paling kaya di dunia atau kita jadi orang miskin dengan tampang pas-pasan dan kaki cacat. Tapi..kita bisa memilih bagaimana cara mengisi takdir kita tersebut. Coba, mau lo anak miliuner tapi kerjaannya cuma ngedrugs sama ngabisin duit bokap lo doang? Ya..ke laut aja dah lo. Tapi kalau lo anak miliuner dan lo tahu gimana memanfaatkan itu semua, mengenyam pendidikan bermutu dan memajukan bisnis bokap lo. Pasti banyak banget orang yang kagum dengan lo. Begitu juga dengan orang miskin, ada yang meratapi nasib sialnya dan putus asa sampai bunuh diri dan aja juga yang berjuang untuk hidup yang lebih baik. Itu semua pilihan lo. Jadi setiap orang memiliki takdirnya masing-masing tetapi gimana kita ngisi takdir itu yang membedakan kualitas kita. Got it?
6. Kalau hotel jaman dulu tuh ternyata gak bebas TIKUS. Hiiii..gw bisa ngejerit semaleman kali ya kalau nginep disana. Gak penting sih, cuman bayangin aja hotel berkelas yang ditinggalin seorang menteri aja bisa ada tikus. Itu bagaimana itu? Haduh..haduh..terus apa bedanya sama di rumah coba. *mungkin gak semua orang menyadari, tapi ini terlihat saat Benjamin ‘berselingkuh’ dengan istri mentri di dapur hotel.
Umm..apalagi ya? Banyak lagi sih pasti yang gw pelajari dari film ini. Tetapi belum kepikiran. Nanti ditambah-tambahin lagi deh ;p.
Ok, setelah perjalanan panjang selama 3 jam ‘mengintip’ kehidupan Mr. Benjamin. Perut kita ber3 pun keroncongan minta diisi. Hoho..akhirnya kita berencana makan di perahu-perahuan di Food court, ternyata penuh ;( jadilah kita terdampar di Sushi Tei. Saya kira sesampainya disana cacing2 di perut kita bisa segera disejahterahkan, ternyata oh ternyata.. antrian panjang saudara..saudara.. dan (dengan bodohnya) kami memilih untuk mengantri. Haduuh..haduh..di Jakarta tuh ternyata bukan cuma cari uang buat makan aja yang susah, tapi makan aja juga susah ;p. tengok aja restoran sebelah, The Duck King, lebih gila lagi ngantrinya. Ckck..
Akhirnya dengan perjuangan panjang. Kami berhasil mendapatkan tempat. Yeiiy..dan ternyataa.. tempat highly recommended ala penny ‘enak kok enak. Gw juga pertama ngirainnya gak enak. Tapi setelah dicoba, lo bakal nagih deh* (bahasa gw sih, intinya begitulah kata penny). Siyaaal.. tetep aja yang namanya gak suka ya tetep gak suka. Tau gitu gw beli ramen aja..hoho..
Eh ya beberapa hari setelahnya, gw menonton wisata kuliner dan mendapat beberapa tips dari Pak Bondan:
a. Jadi..kalau kita mau mencocol kecap asinnya, jangan di bagian nasi, tapi di bagian lauknya, karena nasi kan cepat menyerap tuh, kalau dicocol di nasi, jadinya asin banget, dan gak enak deh (oooh..gitu toh Pak)
b. Apa lagi ya? Kok jadi lupa..kayaknya banyak deh tipsnya ;p. oh ya tips dari gw, penny, & ndah. Lumurin aja sushinya pake mayones, jadi gak berasa mentahnya loooh